Meningkatnya Layanan ‘Vote Palsu’ di Media Sosial Mendekati Pemilu 2024

Lidya Aurora

sosial media

Tinggal empat bulan sebelum pemilihan umum (pemilu) 2024, para calon kandidat mulai memanas-manasi persaingan untuk mendapatkan perhatian pemilih.

Salah satu kunci dalam usaha ini adalah memanfaatkan data untuk meningkatkan elektabilitas. Namun, dalam momentum ini, muncul sejumlah pihak yang berusaha mencari keuntungan dari situasi tersebut.

Tren layanan vote palsu

Sebuah laporan dari laman X @ismailfahmi telah mengungkap tren munculnya layanan berbasis robot yang menawarkan jasa “vote palsu” di media sosial sesuai permintaan. Biaya untuk layanan semacam ini bervariasi, mulai dari yang termurah untuk 110 vote palsu di akun X dengan harga Rp30.000, hingga biaya termahal yang mencapai Rp480.000 untuk 4.400 suara palsu.

Tidak hanya terbatas di platform Twitter, fenomena serupa juga teramati di Instagram. Di sini, setiap 120 suara palsu dijual dengan harga sekitar Rp100.000, sementara 1.100 suara palsu bisa diperoleh dengan biaya sebesar Rp1.000.000. Layanan ini telah digunakan oleh beberapa pihak di berbagai pemungutan suara digital di media sosial X dan Instagram.

hasil polling di media sosial berpotensi di manipulasi

Indikasi penggunaan layanan ini muncul dari jumlah suara yang jauh lebih besar daripada jumlah orang yang sebenarnya melihat unggahan tersebut. Beberapa warganet mulai menyuarakan ketidakpercayaan mereka terhadap hasil polling di media sosial, mengingat adanya potensi manipulasi.

“Sangat berbahaya, dalam hitungan detik, hasil perhitungan suara dapat berubah. Ini juga dapat terjadi ketika perhitungan suara resmi dilakukan, sehingga harus selalu dipantau dan diperiksa secara cermat agar tidak terjadi manipulasi,” kata seorang warganet dengan akun @trisnajavanindo.

Layanan seperti ini menciptakan perdebatan tentang pentingnya memantau dan memeriksa integritas perhitungan suara di media sosial, mengingat risiko manipulasi yang mungkin terjadi dalam jangka pendek. Dengan kata lain, pendekatan ini hanya menciptakan citra sementara yang mungkin dapat memengaruhi pandangan publik, sementara hasil pemilu yang sebenarnya akan terungkap ketika perhitungan suara resmi dilakukan.

Leave a Comment